Sudah beberapa lama aku tidak menelpon ibuku. Ya, alasannya ada beberapa, 1. Aku tidak mau beliau bertanya-tanya tentang kondisiku sekarang, bukan apa-apa, setelahnya pasti beliau kepikiran dan mengganggu kesehatannya. 2. Aku merasa belum mampu menghaturkan kabar menyenangkan untuk ibu setelah banyak kejadian yang aku alami, apalagi beliau memang sedang banyak yang dipikirkan setelah masku ditinggal istrinya yang meninggal 3 bulan lalu karena sakit. Jadi sekarang beliau fokus merawat kedua cucunya yang piatu di bantu oleh mbakyuku yang pertama.
Makanya inginku, aku menelepon beliau nanti ketika ada sesuatu yang cukup membahagiakan hati sepuhnya dan menenangkannya bahwa anak perempuan bungsu yang hidup merantau ini sudah cukup membaik keadaannya. Tapi aku kangen sekali padanya...
Jadilah siang kemarin aku menelepon beliau. Seperti biasa kami bercerita tentang isu-isu aktual dalam keluarga dan seputar kita. Lalu, seperti biasa pula, beliau menanyakan perkembangan kasus yang sedang kualami. Yang kujawab seada-adanya, karena aku memang tidak pernah bisa berbohong pada ibuku, bahkan white lie sekalipun. Dalam salah satu tanggapan beliau atas kisahku ini, beliau menyampaikan "Yo pancen apike ngono, la wong awakmu kuwi keras wateke, opo yo iso ngumpuli bulikmu?" (ya sudah memang sebaiknya begitu, kamu kan keras kepala, memang bisa kamu hidup bersama tantemu? *pen). Hatiku mencelos mendengarnya, bukan karena fakta kekerasa-kepalaanku, tapi lebih karena ini adalah pernyataan ibuku. Perempuan yang melahirkan dan tahu betul aku. Entahlah, aku jadi merasa kecil sekali dengan apa yang sudah aku lakukan selama ini. Ketika aku banyak sekali mengalah, mengadukan kesabaran dan kekerasan kemauan untuk menyelesaikan semua konflik yang kualami.
Maafkan aku ibu, aku belum cukup pandai mengolah rasaku, aku belum cukup pandai untuk menjadi perempuan lembut yang penuh kesabaran. Tapi aku bangga menjadi putrimu, yang kau tulari kegigihan dan kekuatan hati untuk mandiri.