Posted by dyanee on May 4, '08 1:23 AM for everyone
Aku adalah perempuan yang sangat mengandalkan perasaan. kalau ada ungkapan bahwa perempuan bertindak berdasarkan perasaan dan sedikit logika, aku justru lebih dari itu. Aku mendasarkan pertimbanganku pada 90% perasaan dan 10% logika. Itu malah kuanggap sebagai kekuatanku bukan kelemahan seperti anggapan pada umumnya. Logikaku baru akan kupekerjakan untuk mematangkan pertimbangan dan melakukan tindakan yang perlu dilakukan.

Semoga cerita berikut ini dapat menjadi gambaran maksudku.

Belakangan aku merasa tidak nyaman berada bersama salah seorang teman dekatku. Aku sayang padanya dan sudah menganggapnya sebagai kakak perempuan terbaikku. Aku sangat dekat dengannya sampai aku dapat membaca rasa yang sedang berkecamuk dalam dirinya. Beberapa kali malah aku merasakan 'vision' tentang kejadian yang dialaminya dan ketika dia menceritakannya kemudian, 'vision' itu terbukti!
Tapi belakangan aku tidak yakin lagi.
Dia tidak berubah. Aku mengenalnya dari dulu juga seperti itu, mungkin akulah yang berubah, sehingga membuatku merasa tidak nyaman dengan sikap-sikapnya. Aku tidak bisa lagi hanya memaklumi saja seperti biasanya.
Saat ini aku sedang mengalami kondisi yang mirip dengan yang pernah dia alami dulu.
Ketika dia sedang dalam kondisi drop seperti aku saat ini, aku mendengarkan keluhannya, sedihnya, mendengarkan kisahnya tentang apa saja yang dilakukannya untuk mengurangi derita. Menemaninya, memberikan masukan dan pandangan, membelanya ketika lingkungan memusuhinya. Bahkan aku sempat diinterogasi atasan karena dianggap sebagai orang yang sangat tahu kondisi dia saat itu yang berpengaruh pada kinerjanya. Diapun tampaknya percaya padaku, mempercayakan sebagian hidupnya padaku yang akan berusaha kujaga terus sampai kapanpun. Di sisi lain aku tidak pernah mencampurinya dalam mengambil keputusan. Tak ingin pula aku mengganggu hubungannya dengan lelaki manapun saat itu dan tidak mau sok kenal dengan mereka. Walaupun dia memberikan nomor 2 lelaki terdekatnya dalam beda kurun waktu dengan maksud mengantisipasi hal buruk terjadi padanya. Aku percaya dia sudah cukup dewasa untuk memutuskan dan memilih jalannya.
Mungkin aku berlebihan, mungkin aku bukan sahabat yang cukup baik untuknya.
Tapi belakangan, ketika aku sedang ambruk, aku dengan kesadaran penuh berusaha tidak membebaninya dengan segala keluh kesahku. Aku percaya padanya, tapi aku sadar dia tidak membutuhkan tambahan pikiran tentangku karena dia juga pasti sedang mengalami masalah.
Aku tidak akan lupa, aku berjuang menuju permukaan kolam lumpur ini juga didampingi teman dan sahabat-sahabat terbaikku termasuk dia.
Akupun menemukan seseorang yang menjadi curahan hatiku yang memang bukan dia. Dia juga pernah mengingatkanku untuk hati-hati karena sahabat yang satu ini lelaki dan beristri pula. Dia salah sangka, lelaki ini bukanlah pria iseng yang akan merayu wanita yang sedang kacau. Kami berdua punya rasa dan menghindarinya.
Aku mendengarkan sarannya dan kupikir masalah itu sudah tidak mengkhawatirkannya.
Tapi...
Ini bagian terberat yang harus kuungkap!
Aku mungkin berlebihan seperti yang kukatakan tadi, aku merasa dia berusaha merebut perhatian orang-orang yang memberikan perhatian padaku walaupun aku tak pernah minta perhatian mereka dengan sengaja. Aku berharap ini salah, tapi perasaanku berkata lain.
Kenapa harus begitu? Mengapa dia perlu melakukan itu dan tampak bangga jika berhasil mendapatkan perhatian mereka? Kenapa dengan cara seperti itu?
Aku belum tahu harus bagaimana.

Ya, itulah kisahku.
Setelah timbang rasa ini, yang menghabiskan 90% rasa yang melelahkan. Logikaku sedang mulai bekerja. Menentukan mana yang terbaik untuk kulakukan. Meninggalkannya? Atau, memakluminya lagi seperti sebelumnya? Semoga Allah selalu menunjukkan jalan terbaik untukku.
Tunggu sampai logikaku selesai mencerna ya...

iwananashaya wrote on May 4
... saya tunggu, mbak ...
*sambil ikut berpikir jika kejadian itu menimpa saya*
roedey wrote on May 4
yup..
aku tunggu logikamu selesai mencernanya Jeng..
ini cerita belum selesai kan? soale aku masih ra mudeng ki..
jengdyanee wrote on May 5
... saya tunggu, mbak ...
*sambil ikut berpikir jika kejadian itu menimpa saya*
siiip..mbak...mudah-mudahan logika saya bermain cantik dalam menyelesaikan ini...
jengdyanee wrote on May 5
roedey said
yup..
aku tunggu logikamu selesai mencernanya Jeng..
ini cerita belum selesai kan? soale aku masih ra mudeng ki..
hihih...memang ini sangat perempuan bang...pantaslah kalo abang ra mudeng...ga opo-opo wis...do'ain aja aku yo bang... aku tak mau kehilangan sahabat kok... tapi aku tetap harus mengambil sikap.
thanks...
meisivie wrote on May 6
waahh...mba hebat ya...
dalam bercerita...gamblang...ivi suka banget....
cerita ini bagus banget mba.....
jengdyanee wrote on May 6
wehehehe...makasih vie...gi belajar untuk mengungkap rasa aja kok...
meisivie wrote on May 6
wehehehe...makasih vie...gi belajar untuk mengungkap rasa aja kok...
sama2 mba...
senangnya berteman dengan orang yg memiliki 'ketulusan hati' subhanallah...
semoga allah senantiasa merahmati mba ya...

*keep smile sist...
jengdyanee wrote on May 7
sama2 mba...
senangnya berteman dengan orang yg memiliki 'ketulusan hati' subhanallah...
semoga allah senantiasa merahmati mba ya...

*keep smile sist...
thanx vi.... tapi soal ketulusan hati....aduh... i'm not a saint or an angel vie... just an ordinary human....
yup!! spread your smile on it and the world will taste better....hehehe...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help