anda bisa temukan tulisan ini juga di bersalatlah.wordpress.com
'Selamat datang wahai badai kehidupan! Mungkin tak ada yang dapat kami perbuat untuk menyurutkan gelombangmu yang setinggi Himalaya. Tapi kami sanggup menumpang ‘bahtera penyelamat’ mengikuti jejak para pengikut nabi Nuh, sampai badai berlalu.’
Sengaja kukutip kalimat-kalimat diatas seutuhnya agar tak hilang kesan yang sesungguhnya. Ah…tepat sekali ungkapan ini untuk menandai diri kita yang tiada daya tanpa kekuatanNya. Semakin hari kekuatan itu semakin kuperlukan. Kuarungi hidup yang penuh badai ini dengan penyerahan diri agar dapat kugenggam seujung tali kekuatan dariMu ya Allah. Coba lihat apa yang kulihat di sekitar kita. Badai tak hanya menghantam satu dua tiang kehidupan. Topan tak lagi memilih bagian manakah yang akan direlakannya untuk kita selamatkan. Tak ada!! Belum yakin? Di bagian kehidupan mana anda saat ini? Pemerintahan? Gegeduk mana yang masih murni menjalankan amanahnya tanpa ditempeli kesan pribadi ataupun pesan sponsor dari golongannya masing-masing?
Atau anda di dunia bisnis. Coba ingat lagi barangkali ada seseorang diantara anda yang tanpa memikirkan keuntungan pribadi berkarya hanya demi kemaslahatan ummat. Subhanallah, anda perlu mencari helai rambut itu diantara jerami barangkali. Bahkan di bagian kehidupan yang labelnya memang untuk ketentraman ummat masih ada yang tega berlaku negatif.
Nah, mari kita lihat bagian kependidikan kita. Satu bagian kehidupan yang khusus kita pilah untuk menyongsong masa depan kita. Idealnya kita menyiapkan generasi masa depan yang dapat menyelamatkan atau yaaah..paling tidak mengurangi kerusakan yang kita buat saat ini. Ingat jangan salahkan masa lalu. Sejarah adalah tugas kita untuk membenahinya. Amatilah saat ini!
Perbuatan curang menjamur di instansi pendidikan. Mau contoh? Soal ujian bocor sebelum waktunya, joki tes masuk sekolah dan perguruan tinggi, suap menyuap yang harusnya tak layak dilakukan oleh para pejabat pendidikan dengan pihak-pihak khusus.
Mentalitas guru dan siswa yang melempem, aking dan apek. Gimana coba? guru hanya datang ke sekolah untuk setor muka; pembelajaran tidak berjalan..”Buka bukumu halaman 102, kerjakan soal seperti contoh, kumpulkan di ketua kelas. Jangan ribut! Pak Guru ada perlu dulu.”; dekat dengan atasan supaya sering dikirim ke penataran, workshop, seminar, pelatihan. Lumayan, SPJ nya buat tambahan beli pulsa handphone bu guru. Siapa yang peduli ketika pelatihan berlangsung sang guru giat mengangguk-angguk. Mengerti materi yang disampaikan presenter? Nggak juga.. Anggukannya makin dalam karena kantuknya semakin tak tertahan.
Bagaimana kita yang katanya peduli kesuksesan generasi penerus bangsa ini dapat mengharapkan dedikasi guru bermental tengik seperti ini? Lihatlah hasilnya! Seorang murid membunuh temannya tak sengaja karena kelepasan emosi saat main. Sedang apa gurunya saat harusnya tak bosan mengingatkan dan mencontohkan sikap santun dan saling menyayangi?
Silakan miris, Pembaca yang terhormat! Anak lelaki yang segar bugar berubah menjadi anak cacat mental yang tak punya hendaya apapun karena sempat mencoba bunuh diri akibat tak mampu membayar uang iuran. Bapak dan Ibu Guru, kemanakah anda yang selayaknya menggugah semangat ketegaran dan perjuangan siswa? Bagaimana mereka dapat mempertahankan dirinya kalau jiwanya lemah seperti itu. Jangan lagi berharap untuk mengandalkan generasi baru ini akan menyelamatkan kita di masa tua nanti. Memperjuangkan diri sendiri saja belum tentu sanggup!
Sebenarnya ini bukan semata kesalahan guru, departemen pendidikan atau negara. Tapi coba lihat diri masing-masing. Rajinlah berkaca! Apa yang sudah masing-masing kita lakukan untuk membantu mewujudkan cita-cita itu.
Anak-anak yang masih labil itu bukan perlu wejangan atau dalil atau nasihat garing yang tidak penting. Mereka lebih perlu contoh dan model dari orang dewasa di sekitarnya. Model untuk menjadi pejuang yang tangguh, bermental baja dan berjiwa satria.
Bukankah pejuang sejati adalah dia yang gigih mengendalikan hidup, bukannya pontang-panting dikendalikan oleh kehidupan. Pembaca yang terhormat, siapkah kita menjadi salah satu contoh baik untuk anak bangsa?