jeng,
yang saya perhatikan kita itu TAK selalu menankap apa yang si pembicara kemukakan, yang disampaikan.
kadang kita hanya mentafsirkan apa yang terdengar, kemudian di bumbuhi dengan kemauan kita apa kita mahukan.
nach kadang dalam menafsirkan yang disampaikan kepada kita itu selalau di tambah dengan dasa2 yang ada pada diri kita, yang ada pada kite pengetahuan mengenai dia, si pembicara dan juga apa yang dibicarakannya, tak kurang juga ditambahkan dengan "kira2" apa yang dimaxudkannya.
jadi tambah jauuuuh dari apa sesungguhnya asal apa yang dia bicarakan.
setelah berjam2 berdialog, bahkan bertenkar ternyata yang satu maxudnya lain dengan yang apa yang dipertenkarkan.
dan anehnya kadang atau sering juga terjadi seuasai bertenkar dan berdebat ternyata sesungguhnya maxud dan tujuannya persis.
coba perhatikan.
alhasil, untuk meredakannya hanya satu hal azza sech sesungguhnya: bersanka baik!
husnu-zhan!