Beberapa hari ini terasa berbeda untuk seseorang. Entah apa yang menggantung dalam pikiran dan rasanya. Tampak olehnya segalanya terpotong ditengah-tengah dan tidak tersambung dengan sempurna karena tertindih oleh untaian pikiran yang lain. Semua terlihat seperti tumpang tindihnya benang rajut warna-warni. Parahnya, dia tidak berani menarik salah satu benang itu karena semua benang akan langsung kusut dan tak akan mudah untuk dipilah lagi. Entah mengapa dia gamang untuk merenggutkan pikiran-pikiran itu? Dulu dia adalah orang yang sangat spontan dan penuh keyakinan. Beberapa waktu ini dia tampak sangat limbung. Walaupun tak semua orang dapat melihatnya. Ya! Umumnya orang disekitarnya tak sadar apa yang terjadi dengannya. Dia selalu tampil ceria di depan semua orang, dia masih mampu menghibur dan menenangkan sahabat dan rekannya. Dia selalu memasang senyum lebar dan bercanda tiada habis sepanjang hari. Menghibur kesayangan kecilnya, menemaninya, meski seringkali bocah polos itu menyadari ketika ibunya sedang merasa tidak nyaman. Dia tak pernah menunjukkan rasa terdalamnya pada siapapun. Bukan! Bukan tak percaya dia padamu, tapi dia merasa tak mampu menguliti dirinya sendiri di depanmu. Tak terbayangkan, bagaimana ia mengawali hari dengan tarikan napas dalam dan panjang untuk melapangkan rongga jiwanya, menyingkirkan segala gundah, khawatir, takut, resah ke ujung-ujung kolom nuraninya. Dia yakinkan diri setiap saat bahwa dia akan baik-baik saja.
Kadang, semua itu tak cukup! Berkali ketika dia merasa sangat goyah, dia akan lari dari kehidupannya sejenak. Melaju terbang diatas mesin, menguras air mata, memaki dunia, dan menjajal semesta. Ya! Dia kabur sesaat dari lilitan segala benang kusut kehidupannya. Tidak! Dia bukan penyendiri, alaminya dia adalah orang yang memiliki banyak teman dan sahabat. Sahabat-sahabatnya juga selalu ada untuknya untuk berbagi. Entahlah, seringkali dia merasa dirinya sangat kotor dan banyak dosa yang membutuhkan penyucian besar-besaran untuk mengembalikan kesegarannya. Tapi seringkali pula dia merasa dengan keakuannya bahwa 'Hei, aku bukanlah satu-satunya yang melakukan kesalahan! Coba lihat siapa yang lari dari kenyataan! Coba lihat siapa yang selalu menggantungkan diri dan butuh pada sesuatu yang pasti! Lihat siapa yang sombong dan meninggalkan orang yang sudah mempercayainya! Aku tidak seperti itu!' Ya, dia tidak seperti itu! Dia merasa bahwa dia hanya menjalani kehidupan ini dan menerima apa adanya! Oh, kalau begitu dia sombong? entahlah!
Satu hal yang pasti, pergolakan jiwa yang dialaminya selama ini masih belum dimenangkan nya dengan nilai sempurna. Ada kala, dia merasa terjatuh lagi dan meluncur jauh ke dalam jurang hitam. Walau ada kala juga dia merasa dapat melambung sangat tinggi melampaui bintang.
Luncuran tajam kembali ia rasakan beberapa minggu ini. Ketika ia paksa matanya untuk terbuka lebih lebar untuk menyadari bahwa ia sekarang sendiri melanjutkan hidup bersama kekasih mungilnya. Dia goncangkan tubuh jiwanya agar bangun dan bangkit mengatasi segala masalah yang ia hadapi saat ini. Tapi, kenyataan kadang terlalu pahit untuknya. Kadang, ia merasa ingin lari...lari menjauh dan melemparkan semua ini.
"Apa yang terjadi Ni? Kenapa lo mesti kabur?" Tanya sahabat batinnya khawatir.
"Gw ga tau. Gw ngerasa hidup ini sedang payah buat gw." Jawabnya sambil tersenyum malu. Ya! Dia malu, sahabatnya ini mampu membaca dirinya sejelas kaca.
"Kalo lo lari dari semua ini lo pikir lo akan ngerasa lebih aman?"
"Mana gw tau?!" Jawabnya judes.
"Lo masih mau dengerin gw?
"Tergantung..."
"Tau ga, lo itu masih belum ngerasa yakin dengan diri lo sendiri. Lo masih ngerasa perlu bergantung sama seseorang. Lo kehilangan keyakinan diri lo dan parahnya lo menyalahkan orang lain padahal sebenarnya semua ada di tangan lo. Lo yang bakal bisa ngatasin semua masalah lo. Tapi lo ga mau terima tanggung jawab ini kan? Coba tebak, lo mesti bangun! Dewasa dong! Lo mulai deh jaga diri sendiri dan anak lo! Lo harus bisa bergantung pada diri sendiri!"
"Terserah lo deh. Emang lo pikir mudah? Lo ga lihat gimana gw jambak kepala gue sendiri biar bisa tegak berdiri? Lo ga lihat gw pontang panting kesetanan menghidupi diri dan anak gw, lalu lo ga lihat gw juga mesti bisa menyelesaikan masalah yang ditinggalin masa lalu buat gw? Lo ga liat?"
"Lihat!"
"Tau ga lo tuh nyebelin banget!"
"Tau"
"Baguslah, thanks banget deh. Tapi lo tau kan gw berusaha?"
"Iya! You have to be as strong as you can and more!"
Dia selalu berharap pada saat-saat seperti ini nanti akan selalu ada sahabat batinnya yang menjadi sandaran keresahannya. Tidak! Dia tidak akan menjadi lemah! dia akan jadi pribadi yang tangguh. Tapi bukan juga berarti dia dapat sendiri menghadapi bentangan dunia ini! Suatu kala ketika dia sudah berani menarik salah satu ujung benang itu dengan uluran yang tegas dan yakin maka dia akan dapat menguraikan benang kusut dalam dirinya. Tidak mudah memang! Aku berdoa semoga dia mampu menggenggam erat nuraninya sampai saat itu tiba.
_________________________________________________________________________
semoga cerita diatas dapat menginspirasi pembaca mengenai pentingnya ungkapan 'thats what friends are for'. semoga bermanfaat...