Posted by dyanee on Jan 16, '08 6:04 AM for everyone Hidup manusia memang tidak bisa disangka-sangka apalagi diatur seperti rencana dan keinginan kita. Banyak hal dalam hidupku yang menjadi titik balik dan merupakan awal untuk meloncat ke langkah hidupku selanjutnya. Setback pertama adalah kematian bapakku ketika aku berada di usia yang sedang sangat membutuhkan dukungan, lagipula, aku mengidolakan bapak dan beliau adalah sahabat terbaikku. Aku nangis, aku hancur, aku hampir tidak mau sekolah lagi. Aku masuk kuliah hanya karena tuntutan dan ‘tendangan’ dari Ibu dan kakak-kakakku. Aku bahkan sempat sakit fisik akibat beban psikologisku. Pulang sekolah aku sakit perut (serasa diremas tangan besi dan dipelintir) yang membuatku black out di depan pintu dan harus diseret kakakku ke tempat tidur, diolesi balsam panas sekujur perut dan punggung sampai aku sadar sendiri beberapa menit kemudian. Dan, itu terjadi setiap hari selama kurang lebih 3 bulan! Periode ini kulalui dengan 2 kematian lagi dari orang-orang terdekatku. Kuliah kumulai dalam gelap, ‘aku tidak nyata’ saat itu, sampai aku berjuang untuk muncul ke permukaan lautan gelap itu. Orang baru bangkit ini menjadi sangat keras dengan diri sendiri, cuek, temperamental, tegar dan sok jagoan. Bekal karakter baru ini membawaku berhasil melewati masa awal dewasaku dengan sukses, aku menjadi perempuan mandiri, smart dan percaya diri. Di sisi lain, entah karena tuntutan alam bawah sadar akan kasih sayang dan perlindungan yang hilang, aku selalu mencarinya pada orang orang yang lebih senior dariku.Aku mudah sekali dekat dengan orang yang memiliki jarak usia lebih tua termasuk ketika pacaran. Aku selalu lebih nyaman dan nyambung dengan pria lebih tua dibandingkan dengan yang seumuran apalagi yang lebih muda. Rekorku, aku pernah punya kekasih yang usianya hampir 10 tahun diatasku. Pencarianku terus berlanjut tanpa kusadari. Akhirnya aku menikah dengan seseorang yang berbeda usia 5 tahun (lebih senior tentunya) denganku. Kami dikenalkan oleh seorang sahabat sekaligus mentorku. Kesan pertama dia pendiam dan sabar. Walaupun tidak ada sparkling chemistry aku setuju melanjutkan hubungan dengannya. Sepuluh bulan perkenalan akhirnya kami menikah. Seperti umumnya, tahun pertama kulalui dengan harapan tinggi dan belajar mencintainya, menyayanginya, berlindung dan bergantung padanya. Tepat seperti kesan awal dia memang sangat pendiam dan sabar, dia tidak pernah marah apapun yang kulakukan menguji kesabarannya. Ada banyak konflik nyata dan terutama batin yang sudah aku alami tahun pertama ini, antara aku dan dia dan keluarganya. Tapi aku yakin bisa melaluinya dan akan dapat mengubah keadaan ini menjadi yang terbaik untuk keluarga baruku ini. Tahun-tahun berikutnya berlalu dengan berbagai masalah dan kejadian yang muncul. Naik turunnya keadaan ini aku hadapi dengan mata terpejam dan dan harapan tinggi untuk memenangkan ‘pergulatan’ ini. Dukungan dan kerjasama dari pasangan ternyata tidak sesuai dengan harapanku. Dia semakin diam dan pasif bahkan untuk mengambil keputusan sederhana yang berhubungan dengan kepentingan rumah tangga kami. Barangkali berbagai tekanan inilah yang membuat pribadiku meledak berkeping-keping. Pribadi yang sudah sangat banyak menyesuaikan diri dalam pernikahan ini rupanya tak sanggup lagi menahan ‘injakan’ yang terus menekan. Aku mulai limbung dan terkurung dalam bayang-bayang yang berkelebatan sangat cepat. Alam bawah sadarku berteriak mencari pertolongan. Saat itu terjadi, beruntung, seseorang sudi mengulurkan jiwanya untuk menyangga bahuku dan menegakkan diriku. Sang penyelamat ini rela kumaki dan kutumpahi dengan segala keluhan yang seringkali membuatnya kerepotan. Setback yang sangat masif ini kualami di tahun kelima pernikahan, tepat diusiaku menginjak 32 tahun. Dan pada bulan seharusnya kami merayakan anniversary kelima pasanganku pergi dari rumah. Kondisi pribadiku yang masih acak-acakan ditambah dengan kenyataan perginya orang yang pernah kuharap sebagai pembimbing membuatku makin terseok. Akhirnya dengan dukungan moral intensif dari sahabat baruku ini aku mencoba mengurai dari dasar pribadiku. Ya! Fokusnya sekarang adalah diriku. Kucoba cari siapa aku dulu, mengapa terjadi perubahan-perubahan dalam hidupku, baik-buruk, sebab dan akibatnya. Kuakui ini sangat sulit kulewati, tapi aku yakin aku bisa menghadapi dan berhasil memenangkannya lagi seperti dulu. Terima kasihku yang tak terhingga untukmu yang dengan tulus hati mau menjadi sahabat jiwaku.Tanpa tendensi apapun rela membuka telinga dan hati untuk mendengarkan gejolakku. Membukakan mataku untuk meraih kembali hidupku. Memintaku untuk kembali membuka diri dan berbagi dengan sahabat dan keluarga. membantu memfokuskan hidup untukku dan anakku. Aku mungkin telah melukai perasaannya dan mengganggu kehidupannya dengan segala keluh kesah ini. Tapi aku bangga dan hormat padanya karena mampu berada bersama kekuatanku saat ini dengan bekal kasih tulusnya. Satu lagi pelajaran berharga yang aku dapatkan; hanya dengan menjadi pendengar untuk seseorang yang sedang sangat membutuhkan dapat menjadi hadiah yang sangat indah. Thank you for being the wind beneath my wings!!
 | Wah.... open niheh..... you're welcome, Mbak!! You love me too.... |
 | halah halah...plis deh... nu paham mah ngan didinya wungkul... hehehehehhehh.... alus ..alus... batur mah moal apaleun atuh nya... |
| |
|