Posted by dyanee on Jul 21, '08 7:07 AM for everyone kuncup bunga ini masih ragu dan malu
menatap pancaran sinarmu
jangan tinggalkan aku matahariku
ingin ku menyesap seluruh sinarmu
hangatkan dingin sukmaku
Posted by dyanee on Jul 14, '08 7:01 AM for everyone Aku ini sering sekali merasa bingung untuk menentukan pilihan. Karena berusaha untuk tidak melukai pihak manapun, menyenangkan semua pihak. Jadinya aku sering terombang-ambing tidak karuan. Seperti halnya sehubungan masalah terakhir yang kualami, kami alami tepatnya. Aku masih bingung memutuskan untuk pindah tempat tinggal ke rumah tanteku. Tanteku sih ngotot banget minta aku dan Dani tinggal disana, dan aku juga punya banyak pertimbangan positif mengenai itu, tapi yang negatif pertimbangannya banyaaaak banget. Yang ga enak sama kakakku yang rumahnya lebih dekatlah, yang khawatir diomongin keluarga besar lah karena seharusnya sudah mandiri malah nebeng dan sebagainya. Nah kemarin itu, hari Minggu, aku dan Dani ke tanteku untuk 'melaporkan' perkembangan terakhir urusan aku sama ayah Dani. Subhanallah, diantara kebimbanganku dan debatku sama tanteku, sore hari ketika seharusnya pulang..Dani ga mau pulang. Dia bilang mau di mbah aja, ga mau pulang... Beneran rewel ketika aku berusaha maksa dia pulang. Akhirnya, mulai hari ini kita resmi tinggal bersama mbahnya dan tadi pagi mereka udah jalan-jalan cari sekolah, cari pengasuh dll. Wiew... Dani selalu saja memudahkan semua yang menjadi beban pikiranku. Dia sering sekali menjadi orang yang memutuskan sesuatu yang berhubungan dengannya. Pokoknya kalo hal-hal yang berhubungan dengan Dani... aku angkat tangan deh. Itu semua diluar kekuasaanku. Dani dan Allah, mereka, yang tahu harus bagaimana...
Posted by dyanee on Jul 11, '08 12:51 AM for everyone Bandung, 8 Juli 2008 Aku lagi di kamar sama Ibu. Susu botolku sudah habis dan sekarang aku lagi baca gambar-gambar di bukuku. Ibu sih tampaknya lagi pendiam malam ini. Mungkin lagi mikir sesuatu. Dari tadi juga judes sama aku. Tiba-tiba aku dengar suara pagar dibuka dan suara motor berhenti di depan rumah kami. ’Bu? Siapa itu?’ bisikku pada Ibu yang langsung bangun dari tempat tidur dan menyingkap gorden jendela kamar. ’Ayah tuh Dan.’ Ibu kelihatan heran. ’Ayah?’ aku kaget. Lalu kami keluar dan Ibu membuka pintu untuk Ayah. Aku bingung. Malu. Ah enggak tahu apa deh. Waktu Ayah minta aku salaman juga aku melirik Ibu terus. Enggak tahu aku kok malu ya? Udah lama enggak ketemu ayah kali ya? Aku senyum-senyum aja sambil lirik malu-malu ke Ibu. Hihi..takut salah juga, ah enggak tahu ah. Ibu kok diem-diem aja sih? Senyum sedikit sambil mengawasi aku terus. Mata Ibu kok ada airnya ya? Aku sibuk tunjukin mainan sama Ayah. Asyik ada Ayah lagi. ’Ayah, Ayah bobo rumah Dani kan? Nanti bobo di kamar itu ya?’ aku tunjukin kamar belakang ke Ayah. ’Memang boleh gitu?’ kata Ayah sambil ketawa. ’Boleh kan Bu?’ tanyaku pada Ibu. Ah, Ibu hanya senyum lagi. ’Dani mau ditemenin bobo sama Ayah?’ tanya Ibu padaku. ’Mau! Ayo Yah?’ aku lari ke kamar dan kudengar Ibu minta Ayah cuci kaki dan tangan dulu sebelum bobo sama aku. Ibu nunggu di luar kamar katanya. Ibu buatkan aku susu lagi supaya aku cepet siap tidur. Aku ngantuk dan kata Ibu ini sudah jam 10. Tapi Ayah masih ngajak aku ngobrol malah terus peluk aku dan cium aku. Ayah bilang Ayah sayang sama aku. Setelah peluk dan cium aku lagi, tiba-tiba ayah keluar dari kamar ninggalin aku sendirian. Aku enggak tahu kenapa. Diluar, kudengar Ibu tanya Ayah; ’Mau kemana? Dani dah tidur?’ ’Pulang dulu udah malem.’ jawab Ayah sambil sibuk pakai jaket. Aku sudah turun dari tempat tidur tapi cuma lihat Ayah dari kamar aja. Ibu manggil aku disuruh keluar. ’Dan, sini nak, ini Ayah mau berangkat dulu.’ Panggil Ibu padaku. ’Ayah mau kemana?’ tanyaku melihat Ayah sudah siap memakai kaos kaki. Aku mendekat ke Ibu ingin tanya kenapa Ayah pergi lagi. Ibu mengangkatku dan memangku aku. Ayah masih sibuk memasang kaus kaki dan sepatu. ’Ayah pulang dulu, Dani baik-baik ya.’ Ayah mendekati kami dan menciumku beberapa kali. Aku enggak tahu kenapa Ayah berangkat lagi cepat-cepat. ’Mau kemana?’ aku bertanya lagi. ’Ayah mau ke rumah Om Adi. Udah malem sayang, Ayah pergi dulu ya?’ Jawab Ayah sambil beranjak keluar. Uhhh...kenapa Ibu diam saja sih? ’Ayah mau kemana Bu?’ aku ganti bertanya pada Ibu. ’Sayang, Ayah harus berangkat dulu sekarang. Ya?’ kata Ibu tersenyum melihat wajahku. Tapi mata Ibu kok merah dan basah ya? Ke napa Ibu nangis? ’Tapi, Ayah disini aja. Di rumah Dani aja.’ kataku lagi. Lalu kudengar ayah mengeluarkan motor dari halaman. Aku melompat ke kursi dekat jendela. ’Mau lihat Ayah di jendela ya Bu.’ Aku tidak menunggu ibu mengiyakan. Yaaah, Ayah cepet banget, udah pergi aja, motornya udah ga kelihatan. Aduh, aku kan masih pengen ngobrol sama Ayah. Kok sekarang Ayah ga pernah ke rumah Dani ya? Aku kan pengen main sama Ayah. Ibu sih diem aja. Coba Ibu mau bilang sama Ayah biar bobo sini aja. Ah, Ibu gitu ah. ’Dani sayang Ayah, ga sayang Ibu. Ibu baong*. Ibu ga sayang.’ Aku manyun ke Ibu terus pokoknya. Tidurnya ga mau dipeluk. Biarin. Aku tidur memunggungi Ibu. Ibu memelukku dari belakang. Kudengar Ibu berbisik di belakangku. Kok Ibu minta maaf ya? Tapi aku tetep bilang enggak sama Ibu. Aku kesel. Aku mau Ayah. Aku sedih juga sih. Tapi aku enggak tahu ah. Maaf ya Bu. Tulisan ini mungkin tidak berarti apapun untuk teman-teman. Tapi tak apa, anggap saja aku menyimpan ini disini supaya tidak hilang saja. Tulisan ini tentang salah satu saat yang berat sekali untukku dan Dani. Kebingunganku menentukan sikap agar tak semakin melukai perasaan Dani. Kesedihanku menerka perasaan Dani. Aku ingin sekali dapat menghindarkannya dari keadaan ini tapi aku tak kuasa. Maafkan Ibu ya Dan? Baong = nakal/bandel (bahasa Sunda)
Posted by dyanee on Jul 10, '08 6:51 AM for everyone aku lelah lelah menggerogoti tubuhku tubuhku lunglai menyangga pikiran pikiranku lelah enggan bertahan bertahan sampai kapan aku tak tahu tak tahu aku apa yang akan kuhadapi nanti nanti adalah misteri misteri juga ketika aku berusaha menikmati menikmati lelah ini
July 10 third day of hellic gruelling job
Posted by dyanee on Jul 7, '08 8:07 AM for everyone oleh: Jeng Dyani
Gadis langsing berwajah ayu itu duduk mencangkung di bangku halaman kampus. Rambut ikal sepanjang pinggang membingkai ekspresi acuh yang dimilikinya. Jeans pensil dan kaos oblong adalah dress code nya setiap hari. Sama halnya hari ini, sesekali kaki jenjangnya diluruskan dan dia memeriksa kuku berkali-kali seperti tanpa sadar. Dia tak hirau dengan semua kesibukan di sekelilingnya. sahabat dekatnya sedang asyik ngobrol dengan beberapa teman di ujung taman, karena dia merasa kurang berminat ngobrol dengan mereka, dia memilih untuk duduk menunggu sampai sahabatnya itu selesai. Lalu mereka berdua akan pergi ke tempat kosnya dan menghabiskan waktu bersama. Tak lama dilihatnya Ian sedang melangkah kearahnya. Gadis tomboy yang selalu ramai itu melenggang malas ke arahnya. 'Laaah..lu lagi, ngelamun terus kerjaannya. Yo Pulang!' Ian berdiri di depan Mia. 'Iya, gw juga udah lama nungguin elu tau.' sewot Mia. 'Ya udah yuk, makan siang dulu tapi, lapar bener nih gw.' lincah Ian mendahului Mia ke arah kantin. 'Hu...giliran makan aja, cepet lu. Tadi ngobrolin apaan sih? Lama bener.' 'Ya, kita kan harus berbagi kabar dong neng. Emang semua orang kayak elu, cuek bebek dan kuper.' Ian ngakak dan mengedip jahil. Mia hanya bersungut saja menanggapi keisengan kawan akrabnya ini. mereka berdua memang sangat bertolak belakang sifatnya. Mia selalu pendiam, cuek dan kesan judes sangat kental padanya. Tapi dia selalu menjaga penampilan dan kecantikannya. Sementara Ian, gadis yang lebih muda setahun darinya ini, sangat terbuka, selalu ramah dan kenal semua orang. Soal penampilan jangan sampai ada designer atau make up artist yang melihatnya, soalnya pasti mereka tidak akan tahan untuk make over gadis tomboy ini. Rambut Mia yang hitam panjang bertolak belakang dengan Ian yang selalu memangkas habis rambutnya sampai hanya tersisa 1 atau 2 cm. Tapi persahabatan mereka sangat akrab. Perbedaan latar belakang, sikap dan pilihan gaya tak menghalangi mereka untuk selalu berdua kemanapun mereka pergi. Mia selalu bergantung pada ketegasan dan kepedulian Ian,.Sedangkan Ian selalu senang dengan adanya Mia yang selalu dianggapnya lucu dan baik padanya, meski banyak orang menganggap Mia jutek, Ian tak keberatan. Banyak sekali hal yang mereka alami berdua, terlibat banyak kesulitan, senang disaat banyak kegembiraan. Keakraban mereka tak membuat iri siapapun. Karena pada dasarnya Mia tak punya banyak teman dan Ian tetap bisa berteman dengan siapapun tanpa terbatasi persahabatan mereka berdua. Kadang ada juga yang iseng dengan kedekatan mereka. 'Ian, gila lu...bedua melulu sama tuh cewek. Jangan-jangan lu...' Jimmy yang ketemu mereka berdua di depan gerbang kampus malam menyapa iseng. 'Emang napa Jim? Iri lu? Nah lu sendiri kemana-mana berdua sama Indra. Jangan-jangan lu juga...' Ian membalas jahil. 'Hahahhaha...gimana kalo kita kapan-kapan tukeran pasangan? Mau ga lu?' Jimmy makin iseng. 'Hah...males gw, tar deh gw cari tukeran pasangan yang lebih baik.' Ian menggamit tangan Mia melewati dua cowok iseng yang sedang tertawa ngakak. Itulah mereka. Ian dan Mia saling mengisi kekurangan masing-masing. Mia yang sering diam dan tampak rapuh di depan lelaki membutuhkan Ian yang cerdas membantunya keluar dari situasi yang tidak mengenakan seperti tadi. Ian pun seringkali berterima kasih dengan kelebihan Mia yang dia butuhkan di saat-saat tertentu. (Bersambung)
Bandung, 7 Juli 2008
Posted by dyanee on Jul 5, '08 11:09 PM for everyone Lagi dan lagi aku meragukan cinta. Cinta selalu memberikan kehilangan. Lalu sakit lalu perih. Ingin kubilang tidak pada cinta. Tapi adakah hidup tanpa cinta? Entah...
July 5th, 2008
Posted by dyanee on Jul 4, '08 5:10 AM for everyone Qiqiqiiqiiq......sore ini aku melarikan diri dari kantor. Pengen ONLINE!!! Udah gitu ada temennya lagi. Harusnya aku pulang kantor jam 4. Tapi karena sepi di kantor...hix...kan sekolah libur...aku 'teteleponan' halah...telepon maksudnya... ma sohib dong minta ditemenin. Pas sohib gw tercinta datang....yiiihhhhaaaa....kita langsung menuju Labcom SD... hehe..yang terdekat soalnya... dan disinilah aku....online..... salam jumpa kawan-kawan tercinta...kangen...
Posted by dyanee on Jun 27, '08 4:18 AM for everyone Ternyata tuh ya.....saya ini udah lama juga jadi guru.....*adeuh* bukan kok bukan 'guru' yang hebat gitu...hanya saya memang ngajar di sebuah sekolah. Nah...sudah 2 tahun ini anak-anak yang ketika kelas 1 atau 2 nya dulu ada di kelasku, sudah lulus kelas 6. Bayangkan!! Oh belum...saya belum tua kok...yaaa...baru dikit lewatin 30 tahun. wajah tetep cantik lagi... ehehehe....*rada gombal* dan kadang masih disangka mahasiswa, meski sering juga dipanggil Bu sama mang ojek . Tadi malam dan pagi ini adalah acara pelepasan kelas 6 angkatan ketiga di sekolahku. Sebagai MC saya harus tampil prima dong...tapi sayang faktor u *uzur* membuat saya harus cepat memakai sweater tadi malam karena suara sudah mulai berubah dan mulai masuk angin lalu akibatnya pagi ini harus sering-sering minum biar enggak tiba-tiba hilang suara. Udah...ah..sebenarnya bukan itu yang mau diceritakan. Jadi, anak-anakku yang dulunya ararimut...alias imut-imut.... eeeeh..sudah pada menjelma menjadi gadis-gadis dan jejaka yang cantik dan ganteng. Lalu, mereka membuat kenang-kenangan buat kami para guru yang pernah mengajar mereka selama enam tahun ini. Nah, coba tebak. Apa yang mereka berikan untuk saya? Ya!!!! Betul pasti anda tidak tahu!! Hehe... Anak-anak membuatkan saya gambar karikatur yang sangat 'jujur'...ooohhhh terharu... di mata mereka saya tetap terlihat langsing dan cantik..hihihi... Lalu. di sekeliling gambar diriku itu mereka, setiap anak yang pernah ada di kelasku, menuliskan komentarnya tentang diriku. Berikut disarikan yang bagus-bagus aja yah...hihihi....ga ding... ini jujur kok dari mereka. 'Bu Yani itu orangnya kreatif, seru, tapi galak.' 'Bu Yani tuh ngegemesin kalo lagi ketawa. Seru kok di kelas tapi galak.' 'Baik, perhatian sama anak-anaknya, tapi kalo lagi marah...hiyy..serem.' 'Orangnya seru, tapi kalo lagi marah 'ngeri' ah.' Naaaah.....intinya cuma satu.....saya GALAK!! Yaaa....udah deh....terima kasih buat anak-anakku tersayang, U'll be in my heart forever, jadilah apapun yang ingin kalian raih nanti. Terima kasih juga untuk Bapak dan Ibu orang tua yang selama 6 tahun ke belakang menjadi sahabat terbaik kami untuk membesarkan mereka dengan baik, insya Allah. Buat anak-anak, kalian juga sudah sukses melihat saya berkaca-kaca di atas stage. Huh..padahal kan kalian tahunya saya selalu tangguh dan biasanya kalian yang menangis di pelukanku. Ya...sedih, lega, bahagia dan bahkan kangenpun sudah ada ketika saya memeluk gadis-gadis cantik itu untuk melepas mereka pergi. Juga ketika para lelaki remaja yang menyalamiku dengan malu-malu tapi tak lupa tetap mencium tanganku dengan santun. I'll miss u all, my babies...
Posted by dyanee on Jun 27, '08 4:18 AM for everyone Ternyata tuh ya.....saya ini udah lama juga jadi guru.....*adeuh* bukan kok bukan 'guru' yang hebat gitu...hanya saya memang ngajar di sebuah sekolah. Nah...sudah 2 tahun ini anak-anak yang ketika kelas 1 atau 2 nya dulu ada di kelasku, sudah lulus kelas 6. Bayangkan!! Oh belum...saya belum tua kok...yaaa...baru dikit lewatin 30 tahun. wajah tetep cantik lagi... ehehehe....*rada gombal* dan kadang masih disangka mahasiswa, meski sering juga dipanggil Bu sama mang ojek . Tadi malam dan pagi ini adalah acara pelepasan kelas 6 angkatan ketiga di sekolahku. Sebagai MC saya harus tampil prima dong...tapi sayang faktor u *uzur* membuat saya harus cepat memakai sweater tadi malam karena suara sudah mulai berubah dan mulai masuk angin lalu akibatnya pagi ini harus sering-sering minum biar enggak tiba-tiba hilang suara. Udah...ah..sebenarnya bukan itu yang mau diceritakan. Jadi, anak-anakku yang dulunya ararimut...alias imut-imut.... eeeeh..sudah pada menjelma menjadi gadis-gadis dan jejaka yang cantik dan ganteng. Lalu, mereka membuat kenang-kenangan buat kami para guru yang pernah mengajar mereka selama enam tahun ini. Nah, coba tebak. Apa yang mereka berikan untuk saya? Ya!!!! Betul pasti anda tidak tahu!! Hehe... Anak-anak membuatkan saya gambar karikatur yang sangat 'jujur'...ooohhhh terharu... di mata mereka saya tetap terlihat langsing dan cantik..hihihi... Lalu. di sekeliling gambar diriku itu mereka, setiap anak yang pernah ada di kelasku, menuliskan komentarnya tentang diriku. Berikut disarikan yang bagus-bagus aja yah...hihihi....ga ding... ini jujur kok dari mereka. 'Bu Yani itu orangnya kreatif, seru, tapi galak.' 'Bu Yani tuh ngegemesin kalo lagi ketawa. Seru kok di kelas tapi galak.' 'Baik, perhatian sama anak-anaknya, tapi kalo lagi marah...hiyy..serem.' 'Orangnya seru, tapi kalo lagi marah 'ngeri' ah.' Naaaah.....intinya cuma satu.....saya GALAK!! Yaaa....udah deh....terima kasih buat anak-anakku tersayang, U'll be in my heart forever, jadilah apapun yang ingin kalian raih nanti. Terima kasih juga untuk Bapak dan Ibu orang tua yang selama 6 tahun ke belakang menjadi sahabat terbaik kami untuk membesarkan mereka dengan baik, insya Allah. Buat anak-anak, kalian juga sudah sukses melihat saya berkaca-kaca di atas stage. Huh..padahal kan kalian tahunya saya selalu tangguh dan biasanya kalian yang menangis di pelukanku. Ya...sedih, lega, bahagia dan bahkan kangenpun sudah ada ketika saya memeluk gadis-gadis cantik itu untuk melepas mereka pergi. Juga ketika para lelaki remaja yang menyalamiku dengan malu-malu tapi tak lupa tetap mencium tanganku dengan santun. I'll miss u all, my babies...
Posted by dyanee on Jun 25, '08 11:10 PM for everyone Whoop......!!!! Gw dapet kejutan lagi pagi ini. Sohib gw jaman kuliah yang paling best friend halah... nelepon interlokal dari Banyuwangi... Waw...Banyuwangi sodara...betul..yang ujungnya Jatim itu loh...yang deket ke Bali itu. Its been more than 10 years we lost contact and she was looking for me. And finally she got my number from my sister. terharu gw... How we miss each other...hix... Serrruuuuu......ngobrolnya...wuuu...anak dia yang pertama udah usia 11 tahun.. giling... Bimbim endut itu sekarang udah remaja... Hihi...satu pertanyaan gw sama dia di tengah obrolan; 'Mi, suami lu masih yang itu kan?' secara gw tau riwayat jungkir baliknya gitu loh. 'Ya iyalah...hahahhaha...gila lu ya...knapa emang?' 'Ya enggak nanya aja...hahaha' Lumayan dapet inspirasi baru hari ini....yep! Ready for the next story. Thanks ya Mi... Gw kangeeeeen...
Posted by dyanee on Jun 20, '08 7:02 AM for everyone Seri 2: Tentang Kekasih Oleh: Jengdyanee Malam beranjak turun dari dekapan siang. Ariana lunglai melangkah lelah mengakhiri harinya. Satu yang sangat diingininya ketika menuju rumah, berbaring menelungkup dan memejamkan mata, membiarkan denyut-denyut dan rasa panas yang menggerogoti setiap sel tubuhnya yang lelah. Gontai dia membuka pakaian kerjanya dan menuju ke kamar mandi. “Uuuuhhh…cape banget gw, kayaknya mendingan gw tidur aja kali ya. Mudah-mudahan anak gw cepet tidur malem ini. Duh maaf ya sayang.” Keluhnya diam-diam. Dia menyambar telepon yang tergeletak di atas kulkas dan membaca sebuah pesan masuk. //Ngambek gimana sayangku? Mas kan dah bilang mau maafin kamu dan mas juga minta maaf kalo salah. Apa yang bisa mas lakukan agar kamu ga ngambek?// Ariana tersenyum lemah, diletakkannya kembali telepon selulernya di tempat semula. Dia bergumam dalam hati ‘Mas ga salah kok, Rian aja yang lagi kacau. Maafin Rian ya mas.’ Bergegas dia selesaikan semua kebiasaan rutinnya sampai akhirnya dia dapat berbaring diam di samping anaknya yang sedang minum susu formula. Ketika bocah tampan itu perlahan terlelap dalam tidurnya, dia tidak menyadari air mata yang membasah di wajah ibunya. Ariana terisak bisu, segala pikiran berkelebat cepat di belakang matanya yang terpejam. Seperti biasa disaat seperti itu hadir kedua sisi dirinya dan terjadilah perbincangan dalam dirinya. “Rian? Kenapa sih kok lu gelisah terus belakangan ini?” tanya Angel sambil duduk di samping Ariana yang terbaring telungkup. “Gw lagi bingung banget nih. Gw mikirin hidup gw, yang belakangan semakin terpuruk. Makin hari gw makin miris aja. Gw ga mungkin bergantung pada keluarga gw atau siapapun kan?” Ariana terpekur sedih. “Ya gimana ya Ri? Tapi kan lu sebaiknya tabah dan percaya Allah pasti kasih jalan kan?” Angel sedih sekali tiap melihat Ariana sedang berduka begini. “Iya, gw juga tau itu, astaghfirullah, entah mungkin gw lagi lelah aja sekarang. Badan gw sakit-sakit terus, minggu lalu asma gw kambuh padahal cuma pilek ringan.” “He emh, gw juga lihat lu makin lemah aja, o ya lu kemarin hampir jatuh karena mendadak pusing kan?” Angel terlihat khawatir, dipandangnya Ariana yang tampak memerah kulit wajahnya karena demam. “Iya, ntar juga lama-lama sembuh sendiri kali? Angel, gw mesti gimana sih?” “Soal apa Ri?” sahut Angel. “Soal gw sama Mas Nug, gw bingung Angel. Di satu sisi gw udah sayang banget sama dia, tapi di sisi lain gw takut banget ngasih harapan sama dia. Secara, lu tau sendiri kondisi gw lagi kayak gini.” “Eh Ri? Emang kenapa sih? Susah amat, ya udah terima aja. Apa salahnya coba?” Evil yang berusaha diam dari tadi akhirnya tidak tahan. “Duh, Evil, dengerin dulu kenapa sih? Main jeplak aja lu?” sesal Angel. Evil yang dilirik sewot oleh Angel hanya tersenyum sinis. “Gini, lu berdua tau kan kondisi gw saat ini. Kasus gw sama bapaknya anak gw masih buntu. Gw sendiri masih gamang buat mulai sesuatu yang baru. Gw takut ga siap. Gw takut nyakitin orang baru itu. Gw takut gw tersakiti lagi. Kenapa gw jadi pengecut begini sih?” Ariana menutup wajah meredam isak. Dia tak mau membangunkan anaknya. Dia ingin berteriak untuk melepaskan segala beban kekesalannya. Dia kesal dengan dirinya sendiri yang tak juga bisa berdamai dengan logika. “Ri, gw ngerti kok perasaan elu, kekhawatiran elu, gw juga sadar lu ga mau nerima Mas Nug hanya karena lu ngerasa ga enak sama dia kan? Hanya karena dia udah sayang banget sama elu selama ini kan? Lu perlu yakinin diri lu kalo emang bener-bener lu sayang dia tanpa ada tendensi yang lain kan?”Angel bicara kalem. “Aaaah…kalian berdua ini, biasa deh, pasti aja ngomongin perasaan ga enak lah, takut nyakitin lah. Please deh, hari gini gitu loh. Cuek aja lagi, orang dianya juga udah segitunya sama elu, kan tinggal elu terima aja. Yang penting lu sekarang dapet kasih sayang yang lu butuhin untuk sembuhin luka hati elu. Perkara nanti ga jadian ato lu udah bosen ato lu udah ada yang lain, ya udah tinggalin aja.” Evil ngomong sok tau. “Ya ampun Vil, terlalu kamu ya.” Angel bangkit dan berusaha menangkap Evil untuk mencubitnya. Evil hanya tertawa cengengesan dan lari menjauh. “Udah ah, kalian berdua. Tapi makasih ya, gw jadi agak ringan sekarang, apa yang Angel bilang bener sih. Dia orangnya telaten tapi tegas, punya prinsip. Gw juga selalu ngerasa nyaman kok sama dia, dia bisa nge lead gw dari kondisi down banget sampai gw kembali ke kondisi psikologis yang normal. Dia selalu berhasil bikin kesedihan gw larut dan berubah ke kondisi emosi gw yang normal menyenangkan lagi. Hhhh…gw jadi kangen sama dia.” Ariana melamun dan tersenyum-senyum. “Huuuu..itu sih namanya lu jatuh cinta sama dia. Gitu aja lu ga mau ngakuin parah deh…haha.” Evil cengengesan menggoda Ariana. “Hihi..iya juga sih Rian, kali lu emang sebenarnya udah jatuh cinta sama Mas Nug, Cuma lu aja masih ga berani ngakuin. Ya ga?” Angel tersenyum-senyum. “Ah entahlah, ya untungnya sih dia ga nuntut gw dan bebanin gw buat ngakuin perasaan gw sama dia. Dia kasih gw kesempatan untuk enjoy perasaan sayang dia sama gw. Ya semoga gw ga nyakitin perasaan dia dengan cara seperti ini.” Ariana menggeleng lemah. “Ya udah deh Rian, berdo’a aja supaya Allah memudahkan keadaan elu. Oke?” Angel bangkit meninggalkan Ariana setelah mencium sekilas pipinya yang masih lembab karena tangis. Evil pun beranjak pergi sambil ngedumel, “Huh, gw ga ampuh nih malem ini, payah gw aja ga berdaya gini soal cinta. Dasar…dasar.” Ariana kembali membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Sekarang dengan perasaan yang lebih lega. Ya, dia hanya mampu berdo’a meminta Allah memberikan jalan untuknya. Dia ingin terbebas dari semua kebuntuan tanpa arah ini. Bandung, 20 Juni 2008
Posted by dyanee on Jun 19, '08 2:31 AM for everyone Seri I : Tentang Persahabatan Oleh: Jengdyanee Sudah beberapa lama ini Ariana memikirkan tentang arti persahabatan. Pasalnya dia sedang mengalami suatu keadaan yang membuatnya miris. Sesuatu yang belum pernah dia alami sebelumnya. Seolah Ariana dengan kesadaran penuh berdiri di tepi jurang curam yang tak terelakkan lagi. Hubungannya dengan seseorang yang selama ini sudah sangat dekat sedang berada di ujung jurang itu. Pilihannya hanya satu, mereka berdua akan terjatuh ke dasar, hanya takdir yang dapat menentukan siapa diantara mereka yang akan dengan refleks menahan derasnya luncuran dan melindungi salah satunya agar tidak terluka terlalu parah. Ah entahlah, berat sekali, dia hanya mampu memejamkan mata dan menahan kepala dengan kedua tangannya. Suara-suara berkecamuk dalam pikirannya. “Hey..Angel…emang lu pikir Ariana tuh bener ato salah sih?” “Sssssttt…Ih evil…lu tuh ya, Ariana lagi konsentrasi tuh. Berisik amat sih? Kan emang belum tentu dia salah atau enggaknya kan?” “Aduuuh…lu berdua diem dong. Gw tambah pusing nih.” Ariana menutup kedua telinganya mengusir suara-suara kedua sisi dirinya. Sisi baik dan sisi buruknya. Kebimbangannya sudah hampir mencapai puncak. “Eh..Rian, nih dengerin ya. Lu tuh ga salah, temen lu aja tuh yang rese, kan dia yang ga peduli sama elu? Ya kan? Ya kan?” Evil berkata judes. “Ri….kalo menurut aku sih, mendingan juga lu pikirin lagi deh, kalian udah lewatin banyak hal loh untuk bisa sahabatan sampai sekarang. Ya ngga?” sanggah Angel sambil melirik sekilas pada Evil yang melotot galak. “Iya gw juga tau, gw hanya ngerasa lelah aja kali ya?” Ariana menyahut lemah. “Doooh..pada sadar ga sih lu? Rian tuh sebenarnya sebel kan? Cuma lu ga berani aja ngomongnya kan? Karena lu ngerasa ga enak kan? Padahal udah jelas dia ga peduli sama elu. Lu juga tau kan dia malah merebut perhatian orang-orang yang deket sama elu.” Evil mulai naik nada suaranya. “Heh…gw ga pernah ngomong gitu kali. Gw hanya sempet kepikir aja dari apa yang dia lakukan selama ini.” Jelas Ariana. “Ya kalo emang lu kepikir gitu itu artinya iya kan?” Evil bersedekap garang. “Eeeh..belum tentu lagi. Bisa jadi itu hanya perasaan Rian aja kan? Mungkin karena Rian sedang gelisah dan sedang butuh temen waktu itu?” kalem Angel berusaha mendinginkan suasana. “Iya Angel, gw juga kepikiran gitu sih. Kali gw aja yang lagi sensi karena lagi banyak masalah.” “Trus…kemana sobatmu itu pas kamu lagi ada masalah? Ha? Nelpon lu ga? Nanyain keadaan lu ga? Dia juga taunya karena lu yang cerita duluan kan?” galak Evil. “Iya, tapi kan dia bilang juga udah punya feeling sebelumnya tentang kondisiku sebelum gw cerita.” “Hah…feeling? Lalu setelahnya apa?” “Yaah..gw kan juga ga bisa berharap dia spend banyak waktu untukku, selalu ada untukku.” Ariana berusaha menjelaskan. “Iya lah, lagian kan kamu udah dewasa Rian, yang tidak mungkin mengharapkan orang lain untuk mengambil keputusan untukmu. Toh ketika dia ada masalah dulu juga kamu bilang ga akan mencampuri keputusannya kan?” Angel berkata tenang. “Aduuuh…jelas beda dong neng kondisinya! Gini deh, waktu dia terpuruk dulu, lu emang berusaha untuk tidak mencampuri keputusannya, tapi lihat aja gimana dia sangat butuh elu, minta lu nemenin dia, libatin lu dalam hubungan dia dengan siapapun, bahkan sampai lu dituduh yang enggak-enggak sama mantannya dia kan? Lu yang diinterogasi semua orang atas apa yang dia alami kan? Habis-habisan dia minta perhatian elu. Nah sekarang, giliran lu yang sedang dalam kondisi jeblog begini, apa yang dia lakukan? Yang ada juga dia malah berkompetisi sama elu cari perhatian sama orang-orang yang simpati sama keadaan elu. Huh…temen macam apa tuh?” Evil nyerocos gusar. "Evil?!" angel melotot mengingatkan. "Eh, gw sih ngomong fakta aja ya. Siapa yang ketika tau Dion kasih perhatian lebih ke elu, ikut-ikutan cari tau siapa Dion, terus berusaha menyapa-nyapa, sok kenal, menarik perhatiannya? Sampai mati-matian cari tau tentang sesuatu yang Dion sukai dan pamer ketika direspon. Huh, temen apaan kayak gitu? Terus, siapa coba yang pamer-pamer ke elu dan semua orang ketika dia dapat perhatian dan disapa atau diajak ngobrol sama orang-orang yang sempet deket sama elu?" Evil terus memanaskan hati Ariana. "Bukan gitu Vil, kali dia caranya beda ah." Ariana masih berusaha menjelaskan. "Ih, beda dimananya? Lu dulu gitu ga sama teman-teman dia? Enggak kan? Hwuh... parah." “Ssstt, Evil ah! Rian kan emang orangnya ga bisa cerita tentang semuanya apapun yang dia alami sama siapapun, terus…” Angel tak sempat menyelesaikan penjelasannya. “Terus gimana dengan Yudha? Buktinya Rian bisa cerita apapun sama Yudha kan? Dia bisa bikin Rian terbuka sama dia? Dia kasih perhatian penuh sama Rian kapanpun dia butuhkan. Oooh that sweet dude…I wish…Hihihi..” “Hush, dasar setan, ya kalo Yudha kan emang dia punya bakat untuk itu. Dia memang terbiasa mendengarkan orang lain sama kayak Rian.’ “Heh, jangan sembarangan lu nyebut moyang gw ya? Kurang asem! Loh, kalo emang dia ngerasa sebagai teman apalagi sahabat ya harus gitu kan? Ya ga Rian?” “Yah gw sih ga ngerti ya? Gw aja kali yang berharap terlalu banyak. Atau kali emang caranya aja yang beda, yang jelas emang gw ngerasa save and sound sama Yudha.” Ariana setengah melamun. “witiew…cia elaaah….terus kenapa lu engga jadian aja sama Yudha sih Ri? Udah ganteng, keren, perhatian dan sayang banget sama elu.” “Aduh, please dong Vil, ya ga mungkin lagi ah Rian sama Yudha, kan dia udah ada yang punya? Lagian Rian kan ga naksir sa…” “Aaah…pada ga tau poligami apa ya? Huh? Kalo gw sih mau banget tuh..hihih…sayang dia ga bisa milih gw..hix..” Evil nyamber dan pura-pura menghapus mata dengan sedih. “Yeee, kok jadi ngomongin ini sih? Tau ga buat gw Yudha itu sudah tidak terlihat ketampanannya, kekerenannya, karena memang focus gw bukan kesana. Gw nyari dia dan dia nerima gw dengan orientasi yang beda. Apa istilahnya Ngel?” “Teman jiwa. Iya bener tuh Vil, Rian bisa sangat terbuka sama Yudha karena memang Yudhanya sendiri kasih Rian kesempatan buat itu, tanpa penyimpangan keinginan apapun, malah dia pernah nawarin Rian untuk menemui pasangannya buat saling curhat kan? Cuma karena Rian merasa kurang dekat dengan perempuan itu jadi pertemuan itu belum terlaksana.” Angel mengusap-usap sayapnya pelan, seperti biasa kalau dia sedang berusaha berpikir logis. “Iya deh, nah justru dengan kondisi seperti itu bukankah itu yang namanya teman sesungguhnya?” Evil mulai logis walau masih terkilas kejahilan dimatanya. “Hm, mungkin caranya yang beda aja, atau bisa jadi memang temanmu itu tidak terbiasa memberikan perhatian pada orang lain Rian. Kamu kan sudah sadar itu dari jaman kapan kali? Toh kamu selama ini bisa memakluminya kan?” Tanya Angel kurang yakin. “Ya iyalah…namanya juga Ariana, sama siapa sih dia ga maklum? Lu aja yang bodo Ri..mau aja maklum dan maklum lagi selama ini. Huh..kalo gw…” evil mulai culas lagi. “Gw juga ga tau sih, Cuma memang selama ini gw ngerasa bahwa itu wajar aja dan gw nyaman aja dengan hubungan kita, dimana gw ga pernah bisa curhat apapun sama dia karena selalu dia langsung menceritakan keadaan dirinya yang selalu lebih berat dari gw dan membuat gw langsung maklum lagi. Yah, kali gw iritasi hati gini karena belakangan gw bener-bener butuh orang yang mau gw tumpahin perasaan gw.” Papar Ariana. “Nah, saat itulah lu nemuin bahwa dia ga layak jadi temen kan?” judes Evil menukas. “Udah deh Rian gini aja, itu udah lewat kan? Sekarang yang lu harus pikirin itu gimana caranya menyelamatkan persahabatan kalian.” Angel berusaha bijak menjelaskan. “Ih, emang kata siapa udah lewat? Rian itu lagi banyak masalah banget sekarang. Lagian pula emang harus selalu Rian yang menyelamatkan persahabatan mereka? Please deh, itu udah ga sehat kali.” Evil melengos sebal. “Ya emang, kalo gw udah mati baru deh gw lepas dari masalah duniawi begini, ya ngga? Tau nih, gw ngerasa lelah aja dengan semua ini.” Ariana merasa semakin pedih dengan semua hal yang menjadi pikirannya. Di satu sisi dia ingin mempertahankan persahabatan mereka di sisi lain dia merasa seolah tidak memiliki tenaga lagi untuk terus merajut ikatan seperti sebelumnya. Dia hanya berharap semoga dengan berlalunya waktu, dia bisa lebih kuat lagi dan nanti, entah kapan dia akan mampu menjadi pengikat persahabatan mereka lagi. Saat ini dia hanya ingin memejamkan mata dan melewati semuanya dalam kepasrahan bisu. Ketegaran yang menjadi kebanggaannya entah menguap kemana. Terduduk dia dalam rengkuh Angel yang turut sedih memandang dirinya yang lunglai. Evil sebal dengan kebisuan itu dan meracau pelan. Semoga semua akan lebih baik nanti. the end Bandung, 19 Juni 2008
Posted by dyanee on Jun 16, '08 3:10 AM for everyone aku tak tau kenapa berat mengucap selamat tinggal karena aku tak akan bisa benar-benar pergi aku akan selalu kembali kesini ini rumahku hanya maafkan kalau ada salah dan kekurangan
Posted by dyanee on Jun 15, '08 11:04 PM for everyone "Siapa mendapat cobaan, kesulitan, kesusahan, kemiskinan dan sebagainya, dalam memelihara atau merawat anak-anaknya; tapi dia tetap berusaha merawat mereka sebaik-baiknya, maka semua cobaan itu menjadi dinding baginya dari neraka." (HR Muslim) Ketika semua terasa gelap dan serasa tiada jalan keluar Tak terkira perih rasa membawa seorang bocah melangkah menembusnya Gegap suara sunyi memekakkan telinga nurani Entah apa yang menanti di depan sana Jika saja kutahu mati bisa menolongku Jika kuyakin lari akan menolongku Kau tampar mukaku teralih pandangku Cerkas kuraih berkas cahayaMu Jiwa mungil dalam rengkuhku Kuucap maaf padanya dan ampun padaMu Ampunkan hamba yang tak pandai bersyukur ini Ya Robbi..
Posted by dyanee on Jun 12, '08 12:07 AM for everyone MEMAHAMI BAHASA SI BATITA "Bun, num...," tahukah Anda maksud ucapan si batita ini? Atau ketika ia berkata, "Co jangan mam, Yah...," apa yang terlintas di kepala Anda? | Memang tak mudah untuk memahami bahasa si batita, tetapi bukan berarti kita tak dapat belajar mengenal maknanya. Asal tahu saja, sejak awal usia batita, anak mulai mampu mengucapkan sebuah kata yang mempunyai arti. Persoalannya, si anak belum bisa mengucapkan kata tersebut dengan artikulasi yang baik seperti halnya orang dewasa. Makanya tak heran jika pengucapannya sering kali sepotong-sepotong, misalnya "minum" jadi "num" atau "pergi" jadi "gi", dan lainnya. Kemampuan berbahasa ini dipengaruhi oleh kematangan otak (khususnya limbik otak bahasa) dan pembentukan lingkungan terutama yang paling menentukan adalah orangtua. Semakin banyak orangtua memberikan stimulus kepada anak, maka efeknya akan berbanding lurus, anak akan semakin kaya kosakata. Jadi, semakin sering orangtua menanggapi ajakan anak berkomunikasi dan mengenalkan banyak konsep, juga benda, otomatis perkembangan bahasanya akan semakin maju. Yang juga penting disadari, dalam rentang perkembangan seorang anak terdapat masa peka, termasuk masa peka perkembangan bahasa. Hanya di masa peka inilah, istilahnya dengan sekali sentuhan saja, apa yang kita tanam langsung berbuah. Sebaliknya, jika masa peka perkembangan bahasa ini terlewatkan begitu saja, maka orangtua akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan anak dengan kemampuan berbahasa yang prima. Lantas, bagaimana cara mengetahui masa peka tersebut? Jawabannya, hanya orangtua yang selalu berinteraksi dan memiliki kedekatan dengan anak yang mengetahuinya. TAHAPAN PERKEMBANGAN BAHASA * Usia 1 tahun: Anak berada pada tahap linguistic speech yang sangat sederhana dan satu kata bisa mewakili banyak pemikiran lengkap. Anak sudah bisa mengucapkan satu atau dua kata, tetapi cuma sepotong, dan sepotong kata itu bisa punya arti panjang. Contoh, saat anak bilang "bun" dengan maksud Bunda, artinya mungkin saja, "Aku ingin digendong," atau "Aku ingin ikut jalan-jalan bersama bunda." * Usia 2 tahun: Sekalipun masih mirip dengan kemampuan di usia satu tahun, tetapi di usia ini anak sudah mampu menggabungkan dua kata atau lebih menjadi satu kalimat yang bermakna dan berarti. Contohnya, "Minum susu," atau "Pergi sana," hingga "Tidak susu. Putih saja." * Usia 3 tahun: Anak sering melakukan hal yang sangat menarik perhatian karena ia tengah memasuki tahap membangkang, yaitu melakukan yang dilarang dan tidak melakukan yang diizinkan. Tak heran jika dalam perkembangan bahasanya, anak senang mengatakan sesuatu yang membuat orangtua cemas dan malu, seperti "bego", "mampus", dan kata-kata kasar lainnya. Apalagi jika ditunjang dengan seringnya orangtua melarang anak mengucapkan kata-kata tersebut tanpa penjelasan yang tepat. Belum lagi kosakata yang diperolehnya di usia ini semakin banyak dan tidak melulu hanya dari orangtua. Selain itu, mulai usia ini juga umumnya anak mengeluarkan kalimat yang kadang terdengar janggal karena susunan kata-katanya tidak tepat alias terbalik-balik, sehingga apa yang diucapkannya tidak sesuai dengan maksud si anak. Walaupun begitu, orangtua tak perlu cemas. Hal ini wajar terjadi pada batita, karena: * Anak pertama kali baru bisa bicara menyambungkan lebih dari satu hingga dua kata hingga membentuk sebuah kalimat yang berarti. * Anak pertama kali baru bisa berkomunikasi dengan orang lain melalui bahasa yang mempunyai arti dan bisa dipahami. * Anak banyak mempunyai kosakata untuk dijadikan sebuah kalimat yang digunakannya saat berkomunikasi. * Anak mulai memeroleh banyak informasi kata dan kalimat baru yang menarik. * Kemampuan mengolah kata dalam bentuk kalimat hingga menjadi sebuah bahasa di otaknya masih sangat terbatas. * Pengalaman berbahasanya masih sangat minim. CARA MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BAHASA Jika cara-cara di bawah ini dilakukan secara terus-menerus dan konsisten, maka anak akan termotivasi untuk terus mengembangkan kemampuannya berbahasa dan berkomunikasi dan baik. Inilah beberapa hal yang penting diperhatikan orangtua saat berkomunikasi dengan si batita: · Gunakan bahasa yang benar, bukan baby talk seperti, "Oh, mau mimi cucu, ya," tapi, "Oh, mau minum susu, ya?" · Gunakan kalimat dan kata yang tidak bermakna ganda. Contoh, "Jangan ke sana, bahaya!" Ingat, ke sana itu bisa berarti ke luar rumah, ke tempat cucian, ke dapur, dan ke banyak tempat lainnya. Lebih baik, katakan, "Jangan ke dekat kompor menyala, bahaya!" · Gunakan selalu kalimat pendek. · Hindari kata-kata kotor dan kasar jika tak ingin anak menirunya. · Karena anak masih belajar, orangtua sebaiknya melantunkan bahasa dengan jelas, tidak cepat-cepat dan dengan gerak mulut (bibir dan lidah) yang tegas sehingga mudah dikenali dan diikuti anak. · Jika menemukan kesalahan pada kata/kalimat dalam bahasa anak, segera luruskan dengan cara mengulang ucapannya secara benar. 5 "MASALAH" BAHASA & SOLUSINYA 1. Bicara terbalik-balik Contoh, si kecil mengatakan, "Co jangan mam, Yah." Orangtua tinggal meluruskan dengan mengucapkan kalimat yang sama dan arti yang sama tapi susunannya benar, "Ayah jangan makan bakso ini." Dilanjutkan dengan memberikan jawaban, "Oke, Ayah tidak makan bakso ini." Bisa juga dilanjutkan, "Bakso ini punyamu, ya." Jangan sekali-kali mengatakan ucapannya itu salah, "Salah itu. Yang benar seperti ini..." misalnya. Ingat, di usia batita, anak "hobi" membangkang (tahap negativistik), sehingga bisa terjadi si kecil malah akan terus mengulang yang salah. "Kenapa juga harus kayak gitu. Intinya, kan bisa dimengerti," begitu batin si anak. Jika dibiarkan, bahasa anak akan berkembang ke arah yang tidak tepat, membingungkan, sehingga tidak dipahami lingkungan dan menyulitkannya dalam bersosialisasi. Mungkin juga, anak akan mengalami disleksia, meskipun perjalanan sampai ke situ jauh sekali. Yang pasti, sesuatu yang salah jika dibiarkan akan membawa efek tak baik. 2. Bicara kasar atau jorok Tak jarang kita mendengar anak batita mengatakan kalimat kasar seperti, "Bego lu" atau "Mampus lu". Bisa jadi kata-kata kasar itu diperolehnya dari lingkungan bermain. Ketika orangtua tidak dapat mengawasi anak terus-menerus, tentu tak ada jaminan anak terhindar dari contoh kata-kata seperti itu, bukan? Karenanya, diperlukan perhatian orangtua agar anak mengurangi pengucapan kata-kata tersebut dan tidak menjadikannya kebiasaan. Namun, jangan sekali-kali memvonis bahwa anak kasar, nakal, atau jorok, sekalipun kata-kata tidak sopannya dilontarkan di muka umum. Siapa tahu anak melakukan itu karena senang pada bunyinya, sementara ia belum tahu arti dan maknanya secara pasti. Hanya saja, tidak tertutup kemungkinan anak mengucapkan kata-kata kasar atau kotor sebagai ungkapan kekesalan atau kemarahan. Bila demikian, orangtua mesti mengajarkan cara menyalurkan rasa marah dan kesal yang dapat diterima orang lain. Jangan lupa, jelaskan alasannya seperti, "Adek, ucapanmu itu bisa membuat orang lain sedih, lo." Atau, "Kalau dikatain bego, apa kamu juga mau? Sedih enggak? Orang lain juga sama." Untuk anak yang belum tahu arti kata kasar dan kotor yang ia ucapkan, jelaskan makna yang sebenarnya, "Ade, tai itu kan kotoran yang keluar kalau kita pup. Jadi tidak baik diungkapkan pada orang lain." Tetapi jika ucapannya menggambarkan kondisi nyata apa adanya, semisal, "Enggak mau, Om bau," karena si om habis berolaraga dan badannya bau keringat, tentu tidak apa-apa dan anak tak bisa disalahkan. 3. Salah makna kata atau kalimat Sekalipun anak usia ini sudah mampu merangkaikan lebih dari 3 kata menjadi sebuah kalimat, akan tetapi sering kali kalimat tersebut maknanya salah. Bahkan tak jarang, satu kalimat yang diucapkan anak mempunyai arti yang bejibun, seperti "Bun, mam susu, lapar." Kondisi ini terjadi karena keterbatasan kemampuan anak untuk menggunakan kosakata yang ada di memorinya menjadi sebuah kalimat seperti yang diinginkannya. Yang harus dilakukan orangtua adalah segera meluruskannya detik itu juga, "Adek haus atau lapar? Setelah mendapat jawaban, katakan lagi, "Oh, Adek lapar. Jadi ingin makan, ya." 4. Cadel. Biasanya anak batita cadel saat mengucapkan bunyi: R jadi L, K jadi D, dan S dengan T sering terbalik-balik. Tetapi tiap anak variasinya berbeda-beda, lo. Cadel terjadi bisa karena kurang matangnya koordinasi bibir dan lidah. Orangtua harus meluruskan dengan cara menuntun anak melafalkan yang benar seperti apa. Tetapi ingat, orangtua tak boleh memaksakan anak harus langsung bisa, apalagi jika saat itu belum tiba waktunya kematangan untuk mampu melakukan hal tersebut. Pemaksaan hanya membuat anak jadi stres, sehingga akhirnya dia malah mogok berusaha meningkatkan kemahiran berbahasanya. Sebaliknya jika dibiarkan saja, mungkin anak akan terus berada dalam kecadelannya, sehingga akan semakin sulit diluruskan kalau dia sudah lewat masa tune in dalam proses kematangannya. Sedangkan, cadel karena kelainan fisiologis semisal lidahnya pendek, tak punya anak tekak, atau langit-langitnya cekung. Penanganannya tentu harus dibawa ke dokter. 5. Mengucapkan hanya ekornya saja. Yang ini memang sering terjadi pada anak batita. Contoh, "minum" jadi "num", "pergi" jadi "gi", "minta" jadi "ta", "mau" jadi "u", dan seterusnya. Kalau melihat logika dari teori barang masuk ke kotak, di situ jelas terlihat, barang yang masuk terakhir pasti akan jadi terdepan atau lebih dulu yang kita lihat. Nah, seperti itu pula yang terjadi pada seorang anak. Belum lagi, kemampuan otaknya untuk menangkap, mencerna, dan mengeluarkan apa yang dia miliki masih dalam tahap belajar. So, wajar dong kalau masih suka tersendat-sendat. Gazali Solahuddin. Ilustrator: Pugoeh Narasumber: Ira Puspita, MSi., Pembantu Dekan I Bidang Akademik, Universitas Gunadarma, Depok | ********************************** Syukurlah semua kecemasanku tidak nyata. Beberapa waktu aku merasa khawatir mengamati Dani terbalik-balik memakai kata ketika berbicara. Itu terjadi saat dia terburu-buru atau spontan karena excited terhadap sesuatu. Misal, ketika melihat kucing menerobos celah pagar, spontan dia berucap "Bu..bu..tuh kucingnya welat situ." Hihihi..padahal maksudnya 'lewat'. Atau ketika sedang bergulingan dan gelitikan di kasur dia tiba-tiba menjerit "Iiiih...Ibu cibutin aja ih!" Yah maksudnya sih 'cubitin'. Lalu ketika 'lihat' terbalik jadi 'ilat' dan sebagainya. Kukira awalnya anakku mungkin mengalami gangguan bahasa yang baru muncul saat ini akibat kondisi khusus yang dialaminya saat bayi dulu. Disleksiakah? atau gangguan syaraf otakkah? Halah... ya..ya..ya...aku memang masih sering 'parno' dengan riwayat kesehatan Dani. Makanya tadi pagi langsung online dan ubek-ubek Google, cari info tentang Disleksia dan alhamdulillah kekhawatiranku tak terbukti. Penasaran, aku tanya lagi Pakde Google dengan entry 'susunan kata diucapkan terbalik' lalu...tada...muncullah informasi lengkap diatas dari situs NAKITA online. Wiew....aku langsung lega...syukurlah Dani berkembang dengan baik dan normal. Matur nuwun Pakde Google dan www.nakita-online.com 
Posted by dyanee on Jun 11, '08 1:05 AM for everyone Ada sebuah kisah yang ditulis teman tentang seorang perempuan yang memilih untuk tetap memberikan kesempatan pada pasangannya yang telah lama pergi meninggalkan dia dan anaknya dengan pertimbangan keberadaan si anak tersebut. Alih-alih mempertanyakan kepergiannya atau menyesali apa yang telah dilakukan lelaki itu pada hidupnya. Dia mengambil keputusan untuk membuka diri dan menerima lelaki itu kembali demi anaknya. Rasanya saya tertohok dengan kalimat tersebut membayangkan jiwa besar yang bagaimana lagi yang harus dimiliki seorang perempuan untuk selalu menerima kekurangan dan keberadaan seorang lelaki. Ketika sebuah pilihan memang harus diambil, cukup sulit untuk menyampingkan kesan, rasa bahkan resiko yang menyertainya. Namun seberat apapun itu toh hidup adalah pilihan. Benar begitu? Pun, perempuan yang tak mampu memilih lagi karena memang semua sudah diputuskan dan yang tersisa adalah perjalanan panjang yang harus dilalui. Penyesalan kadang terbersit, tapi toh sesal tak akan memperbaiki keadaan. Sehingga apa yang dia lakukan adalah berusaha keras mensyukuri semua yang dia dapati saat ini dan melangkah terus menapaki hidup. Ada lagi cerita nyata dari seorang perempuan lain yang dengan rela dan kebesaran hati menerima hidup. Pasangan perempuan ini adalah seorang lelaki yang entah karena kurang tanggung jawab atau berjiwa pengecut, memperlakukan dia dengan sangat tidak adil bahkan mempersalahkannya atas segala hal yang dia usahakan untuk mempertahankan rumah tangganya. Beliau dengan segala kebesaran jiwa dan keridhaan tetap bertahan sampai saat ini dalam ikatan pernikahan tersebut. Rasanya ketika mendengar hal seperti ini, protes dan prihatin bersatu menjadi kesal. Tapi lagi-lagi itu adalah pilihan hidup bukan? Kemudian, ada perempuan lain lagi yang melakoni kehidupannya dengan sangat ragu dan penuh rasa bersalah atas apa saja yang telah terjadi dengan dirinya dan rumah tangganya. Apapun yang akan dia lakukan selalu saja membuatnya ragu dan sekali lagi takut salah dengan apa yang akan dipilihnya nanti. Ada rasa ngeri ketika melihat betapa beratnya seseorang akan memutuskan sesuatu. Walaupun memang mengambil keputusan dan memilih jalan tidak pernah mudah, semoga keraguan dan rasa bersalah dapat diminimalisir. Ketika ada rasa gamang menyeruak hati seorang perempuan, akankah dia sanggup menjalani dan menikmati hidupnya tanpa pasangan. Ketika cinta dan kasih sayang lawan jenis menjadi obat dan perban luka hatinya yang pernah tertoreh oleh seorang lelaki lain. Lelaki yang pernah dicintainya dan telah diberikan segalanya sejak awal. Dirinya yang bimbang dan limbung karena hilangnya orang yang selama ini menjadi tonggak hidupnya. Semoga pilihan yang diambilnya bukanlah didasarkan pada sesuatu yang emosional dan sesaat saja apalagi hanya kekhawatiran hilangnya eksistensi diri. Lalu ada kalanya seorang perempuan yang begitu berat melangkahkan kaki menuju pilihan hidupnya untuk memulai hidup berumah tangga. Mungkin mengamati segala yang terjadi disekitarnya, menelaah yang dialaminya dalam keluarga, mengkhawatirkan apa yang akan terjadi jika pilihan yang diambilnya salah atau alasan yang hanya dia yang tahu. Semoga hal itu tidak menghalangi dirinya meraih masa depannya. Karena hidup tidak akan berhenti menunggu saat kita ragu. Ya kan? Apakah menjadi seorang perempuan akan selalu seberat itu? Tidak! Apakah penderitaan selalu lekat dengan hidup perempuan? Tidak mungkin! Karena definisi derita atau bahagia dari seseorang itu sangat berbeda. Coba kita lihat seorang perempuan tegar yang mengarungi hidupnya menjadi kuli angkut di sebuah pasar tradisional. Kepasrahannya mencerminkan bahagia dan syukur di usianya yang beranjak senja. Kebahagiaan atau meminjam istilah salah seorang sahabat saya ’rasa hangat di hati’ bisa didapati dimana saja dan tergantung bagaimana kita menikmatinya dan mensyukurinya. Semoga saya dan semua perempuan yang tersebut diatas termasuk dalam golongan hamba yang mampu mensyukuri nikmatNya.
Posted by dyanee on Jun 10, '08 5:16 AM for everyone kepalaku pusing terus sehari ini
Posted by dyanee on Jun 8, '08 11:15 PM for everyone kalo kemarin-kemarin aku bingung mo ngapain...nah hari ini...aku lebih bingung lagi... haha...memang aneh kepalaku ini... kena penyakit apa yak? kemarin 2 hari tegang terus soalnya dani gi batuk banget... dilema antara mo bawa ke dokter sama pd pake obat tradisional ajah..soalnya dia udah kebanyakan antibiotik waktu bayinya.. untunglah hari ini udah lumayan membaik... heh!! dasar emak-emak... panik aja yang ada... jadinya kemarin 2 hari weekend ga produktif deh, bayangin aja coba...cuma bikin rajutan sambil bengong liatin dani tidur...ketar-ketir badannya tiba2 panas...hix... hari ini banyak laporan yang harus dibikin, evaluasi tim kerja di depan mata, tapi aku males beranjak dari depan mp niiiiih... hegh... penyakit pemalesan niiih....
Posted by dyanee on Jun 5, '08 6:04 AM for everyone bingung juga nih.... ga ngerti mo ngapain... ide numpuk... inspirasi tinggal nengok ibaratnya... tapi kordinasi tangan dan otak ga nyambung... ada serabut sarafnya yang putus nih kayaknya.... toloooooong.... otakku udah abis tadi siang buat rancangan program tahun ajaran depan..... zapew dew...
Posted by dyanee on Jun 1, '08 10:07 PM for everyone | Sonnet #23 Posted: XXIII.
As an unperfect actor on the stage Who with his fear is put besides his part, Or some fierce thing replete with too much rage, Whose strength's abundance weakens his own heart. So I, for fear of trust, forget to say The perfect ceremony of love's rite, And in mine own love's strength seem to decay, O'ercharged with burden of mine own love's might. O, let my books be then the eloquence And dumb presagers of my speaking breast, Who plead for love and look for recompense More than that tongue that more hath more express'd. O, learn to read what silent love hath writ: To hear with eyes belongs to love's fine wit. | | Sonnet #22 Posted: XXII.
My glass shall not persuade me I am old, So long as youth and thou are of one date; But when in thee time's furrows I behold, Then look I death my days should expiate. For all that beauty that doth cover thee Is but the seemly raiment of my heart, Which in thy breast doth live, as thine in me: How can I then be elder than thou art? O, therefore, love, be of thyself so wary As I, not for myself, but for thee will; Bearing thy heart, which I will keep so chary As tender nurse her babe from faring ill. Presume not on thy heart when mine is slain; Thou gavest me thine, not to give back again. | | Sonnet #21 Posted: XXI.
So is it not with me as with that Muse Stirr'd by a painted beauty to his verse, Who heaven itself for ornament doth use And every fair with his fair doth rehearse Making a couplement of proud compare, With sun and moon, with earth and sea's rich gems, With April's first-born flowers, and all things rare That heaven's air in this huge rondure hems. O' let me, true in love, but truly write, And then believe me, my love is as fair As any mother's child, though not so bright As those gold candles fix'd in heaven's air: Let them say more than like of hearsay well; I will not praise that purpose not to sell. | Sonnet #20 Posted: XX.
A woman's face with Nature's own hand painted Hast thou, the master-mistress of my passion; A woman's gentle heart, but not acquainted With shifting change, as is false women's fashion; An eye more bright than theirs, less false in rolling, Gilding the object whereupon it gazeth; A man in hue, all 'hues' in his controlling, Much steals men's eyes and women's souls amazeth. And for a woman wert thou first created; Till Nature, as she wrought thee, fell a-doting, And by addition me of thee defeated, By adding one thing to my purpose nothing. But since she prick'd thee out for women's pleasure, Mine be thy love and thy love's use their treasure. | Sonnet #19 Posted: XIX.
Devouring Time, blunt thou the lion's paws, And make the earth devour her own sweet brood; Pluck the keen teeth from the fierce tiger's jaws, And burn the long-lived phoenix in her blood; Make glad and sorry seasons as thou fleets, And do whate'er thou wilt, swift-footed Time, To the wide world and all her fading sweets; But I forbid thee one most heinous crime: O, carve not with thy hours my love's fair brow, Nor draw no lines there with thine antique pen; Him in thy course untainted do allow For beauty's pattern to succeeding men. Yet, do thy worst, old Time: despite thy wrong, My love shall in my verse ever live young. | | Sonnet #17 Posted: XVII.
Who will believe my verse in time to come, If it were fill'd with your most high deserts? Though yet, heaven knows, it is but as a tomb Which hides your life and shows not half your parts. If I could write the beauty of your eyes And in fresh numbers number all your graces, The age to come would say 'This poet lies: Such heavenly touches ne'er touch'd earthly faces.' So should my papers yellow'd with their age Be scorn'd like old men of less truth than tongue, And your true rights be term'd a poet's rage And stretched metre of an antique song: But were some child of yours alive that time, You should live twice; in it and in my rhyme. | | Sonnet #18 Posted: XVIII.
Shall I compare thee to a summer's day? Thou art more lovely and more temperate: Rough winds do shake the darling buds of May, And summer's lease hath all too short a date: Sometime too hot the eye of heaven shines, And often is his gold complexion dimm'd; And every fair from fair sometime declines, By chance or nature's changing course untrimm'd; But thy eternal summer shall not fade Nor lose possession of that fair thou owest; Nor shall Death brag thou wander'st in his shade, When in eternal lines to time thou growest: So long as men can breathe or eyes can see, So long lives this and this gives life to thee. |
| |